Keraton Jogjakarta

Bangsal Traju Mas
Sumber : https://www.kratonjogja.id/

Jika ke Jogja tidak ke keraton, rasanya ada yang kurang. Ke keraton bukan hanya untuk berwisata, tapi juga menggali sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia sampai tegaknya NKRI. Kalian yang mengaku NKRI Harga Mati, belum komplit kalau belum memahami peran keratorn Jogjakarta sebagai salah satu pilar perjuangan menuju tegaknya Republik Indonesia. 

Di lain sisi, keraton meruakan pusat penyebaran agama Islam pada masanya. Setiap benda bersejarah di sini terdapat nilai-nilai Islam yang dilekatkan dalam filosofinya. Demikian pula posisi bangunan dalam komplek keraton Jogjakarta ini.

Pada artikel terdahulu yaitu “Wisata Titik Nol Jogja”, keraton Jogjakarta Hadiningrat adalah area yang terdekat dari titik “titik nol Jogja”. Kali ini saya akan memaparkan secara spesifik pada destinasi wisata Keraton. 

Komplek keraton berdiri diatas tanah seluas 14.000 meter persegi di  Jl. Rotowijayan Blok No 1, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lalu apa saja yang terdapat pada komplek keraton Jogjakarta ini ?

Alun-alun Utara

Kraton adalah pusat pemerintahan, pusat budaya dan pusat penyebaran agama Islam pada zamannya. Untuk mendukung pemerintahan, disiapkanlah berbagai fasiltas atau sarana yang mendukung jalannya pemerintahan. Yang petama, Alun-Alun Utara. Yaitu lapangan luas yang terdapat di Utara bangunan Keraton. Adapun fungsinya antara lain : 

1. Sebagai tempat berlangsungnya acara-acara yang diadakan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat,                seperti prosesi Garebeg, Sekaten dan Tumplak Wajik.

2. Tapa Pepe, yaitu kegiatan mengadukan persoalan kepada Sultan dengan duduk di bawah sengatan                    matahari.

3. Kegiatan Kemiliteran / pendadaran dan pelatihan prajurit keraton.

4. Pasar rakyat. Dulu saat penulis masih kuliah di Jogja, jika menjelang upacara sekaten, di alun-alun Utara            selalu diadakan bazar / pasar rakyat.

Masjid Agung Keraton Jogjakarta

Masjid Agung Keraton Jogjakarta, dikenal pula sebagai Kagungan Dalem Mesjid Gede Kauman atau Masjid Raya Kesultanan Yogyakarta, atau Masjid Besar Yogyakarta, yang terletak di sebelah barat kompleks Alun-Alun Utara. Jl. Kauman, Ngupasan, Kec. Gondomanan, Kota Yogyakarta. Masjid ini dibangun mulai tahun 29 Mei 1773 M atau 6 Rabi'ulakhir 1187 H. Saat pembangunan Masjid ini, Sultan yang berkuasa adalah Sultan Hamengku Buwono I. 

Tata ruang yang dibuat oleh keraton Jogjakarta mencirikan tata ruang kerajaan-kerajaan Islam sejak kerajaan-kerajaan bercorak Islam sebelumnya, seperti Pajang dan Demak. Dalam tata ruang tersebut terdapat bangunan keraton sebagai pusat pemerintahan, masjid sebagai pusat keagamaan, dan di seberang nya ada pasar sebagai pusat ekonomi. Kagungan Dalem Masjid Gede Kauman merupakan pusat keagamaan bagi Keraton Jogjakarta ini.

Bangunan Keraton

Bangunan Keraton terdiri dari 7 area, yang masing-masing area terbagi menjadi sub-sub area. Area tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda. 


Denah bangunan keraton Jogjakarta
Sumber : https://www.kratonjogja.id/
A.    Pagelaran & Sitihinggil Lor.
        Area ini terdiri dari 3 sub area yaitu :
        1. Bangsal Pagelaran
        2. Bangsal Sitihinggil
        3. Bangsal Manguntur Tangkil.
B. Kamandungan Lor.
        1. Bangsal Pancaniti.
C. Srimanganti
        1. Bangsal Srimanganti
        2. Bangsal Traju Mas
D. Kedhaton
        1. Kraton Kilen
        2. Kaputren
        3. Gedhong Prabayeksa
        4. BAngsal Kencana
        5. Bangsal Manis
        6. Bangsal Kasatriyan.
E. Kemagangan
        1. Bangsal Kemagangan.
F. Kamandungan Kidul.
        1. Bangsal Kamandungan
G. Sitihinggil Kidul
        1. Gedhong Sasanahinggil Dwi Abad.

Taman Sari


Sumber : https://www.kratonjogja.id/

Taman Sari Yogyakarta atau Taman Sari Keraton Yogyakarta adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758-1765/9.

Taman Sari dijuluki “Water Casteel” karena dikeliling air dalam kolam. Dijuluki pula “The Fragrant Garden” karena tanaman berupa pepohonan dan bunga-bungaan yang berbau harum.

Situs sejarah ini menunjukkan bahwa keraton Jogjakarta merupakan keraton yang makmur, bisa memiliki taman seluas 10 hektar. Ada danau buatan yang di tengahnya terdapat bangun-bangunan bersejarah yaiitu Pulo Kenanga dan Pulo Panembung yang memiliki beberapa fungsi. Danau buatan bisa dipakai untuk bermain sampan, dan untuk masuk ke bangunan Pulo Kenanga dan Pulo Panembung, selain dengan sampan, ada terowongan bawah air. 

Megahnya bangunan Taman Sari ini selain seni juga teknologi yang digunakan, sebagai contoh, ada pada bangunan Pasareyan Ledhoksari, yaitu tempat peristirahatan Sultan, dibawahnya terdapat air yang mengalir, yang bisa berfungsi sebagai pendingin alami meskipun udara sedang panas.

Tamansari memiliki luas lebih dari 10 hektar dengan 57 bangunan di dalamnya. Bangunan-bangunan tersebut berbentuk gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, danau buatan, pulau buatan, masjid, dan lorong bawah tanah. 

https://www.kratonjogja.id/tata-rakiting-wewangunan/14/bangunan-bangunan-tamansari

Dahulu, selain sebagai tempat peristirahatan atau rekreasi keluarga kerajaan, Taman Sari juga berfungsi sebagai benteng pertahanan dan religi. Fungsi pertahanan tampak pada tembok keliling yang tebal dan tinggi, gerbang yang dilengkapi tempat penjagaan, dan bastion atau tulak bala sebagai tempat menaruh persenjataan. Selain itu terdapat beberapa urung-urung atau jalan bawah tanah yang menghubungkan satu tempat ke tempat lain. Juga posisi bangunan Pulo Kenanga yang tinggi, diduga difungsikan sebagai tempat pengamatan apabila musuh datang.

Museum Sonobudoyo

Di Museum ini terdapat ribuan benda koleksi yang rincianya sebagai berikut:

Jenis Koleksi Jumlah Koleksi
Koleksi Geologi 48
Koleksi Biologi 39
Koleksi Ethnografi 12.257
Koleksi Arkeologi 2.143
Koleksi Historika 42
Koleksi Numismatika 29.744
Koleksi Filologika 1.205
Koleksi Keramologika 294
Koleksi Senirupa 14.263
Koleksi Teknologi 3.310
Jumlah         63.345



Posting Komentar